Kebanyakan
serangga akan lesu pada suhu rendah. Namun ternyata ada juga beberapa serangga
yang tetap giat dan hidup subur di daerah es. Seperti yang ditemukan oleh para
ilmuwan di salah satu gletser daerah Himalaya.
Serangga itu
disebut agas gletser. Tubuhnya tahan
dingin dan tetap giat pada suhu di bawah titik beku. Bahkan adaptasinya
terhadap cuaca dingin sangat baik sehingga serangga ini justru tidak tahan
panas dan mati apabila dipegang tangan manusia.
Sayap agas
telah mengecil sehingga tidak dapat terbang. Agas gletser berjalan di atas salju dan es. Larva dan pupanya yang
sedang tumbuh, hidup di aliran tempat lelehan salju yang mengalir. Larvanya
memakan ganggang dan bakteri.
Selain agas gletser, ada lagi serangga yang
lain, yaitu capung jangkung dan capung batu. Kedua serangga ini memakan
ganggang dan bahan organik lain di salju dan bertelur di situ.
Sedangkan makhluk di
daerah es selain serangga yang hidup di gletser ialah cacing es dan ganggang
anggrek yang tahan dingin dan menjadi makanan binatang yang hidup di es.
Zat antibeku alam
Sel hidup akan mati
kalau membeku. Sebabnya ialah kalau menjadi es, air di dalam sel akan
mengembang sehingga akan menghancurkan selaput sel. Beberapa serangga dapat
hidup di iklim beku karena mempunyai zat antibeku alam yang disebut gliserol di dalam cairan tubuhnya.
Sel serangga ini tidak
beku sampai suhunya turun hingga -200 Celsius. Sel-sel yang terlindung ini
mengeluarkan cairan sehingga esnya terbentuk di luar sel, bukan di dalam sel.
Sebagai perlindungan
lebih lanjut bagi selaput ini, gliserol
di dalam cairan ini menyebabkan kristal es terbentuk tanpa ujung menggerigi
yang dapat merusak sel.
Mengenai ketahanan gliserol ini, ada yang lebih hebat lagi.
Seperti serangga kupu kubis, di mana pada musim dingin menjadi pupa. Di dalam
cairan tubuhnya terdapat gliserol
yang tahan pada suhu -300 Celsius. (*)
Dirangkum dari
berbagai sumber oleh Narwan Eska.
Foto-foto : Dunia
Serangga




Tidak ada komentar:
Posting Komentar