Selasa, 08 Oktober 2019

Inilah 5 Fakta Mengejutkan Tentang Hiu


Publikasi yang salah membuat spesies ikan terbesar ini semakin terancam
Foto: inverse.com

Berdasarkan skala fosil yang ditemukan di Australia dan Amerika Serikat, para ilmuwan berhipotesis hiu (Elasmobranchii) pertama kali muncul di lautan sekitar 455 juta tahun yang lalu.
Ada beberapa ratus spesies hiu, mulai dari yang berukuran kurang dari delapan inci hingga lebih dari 65 kaki.
Hiu ditemukan di lingkungan laut dangkal hingga laut dalam, di lingkungan pesisir, laut, dan samudera di seluruh dunia. Beberapa spesies mendiami daerah pantai yang dangkal, sementara yang lain hidup di perairan dalam, di dasar samudera dan di samudera terbuka. Beberapa spesies, seperti hiu banteng, berkeliaran dengan mudah di air asin, di air tawar dan di air payau.
Hewan yang luar biasa ini memiliki reputasi yang hebat dan biologi yang menakjubkan. Coba simak 5 fakta menakjubkan tentang hiu berikut ini.


1. Hiu tidak memiliki tulang

Foto: nj.com

Hiu menggunakan insangnya untuk menyaring oksigen dari air. Dilansir dari fisheries.noaa.gov (12/07/2018), dijelaskan hiu adalah jenis ikan khusus yang dikenal sebagai "elasmobranch", yang diterjemahkan menjadi ikan yang terbuat dari jaringan cartilaginous, yaitu jaringan tulang rawan seperti pembentuk telinga dan ujung hidung kita.
Meskipun hiu tidak memiliki tulang, mereka masih bisa memfosil. Seiring bertambahnya usia hiu, mereka menyimpan garam kalsium di tulang rawan kerangka mereka untuk memperkuatnya.
Rahang hiu yang kering muncul, tampak berat dan padat seperti tulang. Mineral yang sama tersebut memungkinkan sebagian besar sistem kerangka hiu bisa menjadi fosil. Gigi-giginya pun memiliki enamel, sehingga tampak ketika memfosil.
Meskipun hiu tidak memiliki kerangka bertulang seperti banyak ikan lainnya. Hiu masih dikategorikan dengan vertebrata lain di Filum Chordata, Subphylum Vertebrata, dan Kelas Elasmobranchii. Kelas ini terdiri dari sekitar 1.000 spesies hiu, skate, dan pari.

2. Spesies hiu beragam ukuran

Foto: conservation.org

Hiu memiliki beragam bentuk, ukuran, dan bahkan warna. Dilansir dari fisheries.noaa.gov (12/07/2018), dikatakan hiu adalah ikan terbesar dan ikan terbesar di dunia adalah hiu paus (Rhincodon typus), yang diyakini mencapai panjang maksimal 19,812 m dengan berat bisa mencapai 40 ton. Hiu terkecil dianggap hiu lentera kerdil (Etmopterus perryi), spesies laut dalam langka yang panjangnya sekitar 15 sampai 20 cm. bahkan ditemukan hiu saku (Mollisquama mississippiensis), dengan panjang 14 cm.
Gigi hiu tidak memiliki akar, sehingga biasanya rontok setelah sekitar satu minggu. Namun, hiu memiliki pengganti yang disusun dalam baris dan yang baru dapat bergerak dalam satu hari untuk menggantikan yang lama. Hiu memiliki antara 5 dan 15 baris gigi di setiap rahang, namun kebanyakan memiliki 5 baris.


3. Hiu adalah karnivora yang tak pernah tidur

Foto: telegraph.co.uk

Hiu termasuk karnivora, yang suka berburu dan makan ikan, mamalia laut seperti lumba-lumba dan anjing laut, bahkan hiu lainnya. Beberapa spesies memangsa kura-kura, burung camar, krustasea, moluska, plankton dan udang.
Hiu memiliki sistem garis lateral di sepanjang sisinya yang mendeteksi pergerakan air. Ini membantu hiu menemukan mangsa dan menavigasi benda-benda lain di malam hari atau ketika visibilitas air buruk.
Dijelaskan oleh thoughtco.com (03/07/2019), sistem garis lateral terdiri dari jaringan kanal berisi cairan di bawah kulit hiu. Gelombang tekanan di air laut di sekitar hiu menggetarkan cairan ini. Getaran itu selaanjutnya ditransmisikan ke serat dalam sistem, yang mentransmisikan ke ujung saraf hiu dan pesan tersebut disampaikan ke otak.
Hiu perlu menjaga air bergerak di atas insang mereka untuk menerima oksigen yang diperlukan. Tidak semua hiu perlu bergerak terus-menerus. Beberapa hiu memiliki spiral, lubang kecil di belakang mata mereka, yang memaksa air melintasi insang hiu sehingga hiu bisa diam ketika beristirahat.
Hiu perlu berenang terus-menerus, tetap aktif dan tenang daripada tidur nyenyak. Nampaknya hiu melakukan “berenang tidur”. Namun dengan otak yang kurang aktif, meski mereka terus berenang.

4. Perkembangbiakan

Foto: thoughtco.com

Beberapa spesies hiu bersifat ovipar, artinya mereka bertelur. Spesies yang lain tergolong vivipar dan melahirkan anak muda. Menurut thoughtco.com (03/07/2019), spesies hiu vivipar ini memiliki plasenta seperti bayi manusia. Dalam kasus tersebut, embrio hiu mendapatkan nutrisi dari kantong kuning telur atau kapsul telur yang tidak dibuahi, yang diisi dengan kuning telur.
Namun kadang ada embrio hiu yang kompetitif. Seperti embrio Hiu Macan Pasir, di mana dua embrio terbesar, mengkonsumsi embrio lain dari serasah.
Hiu berumur panjang, rata-rata beruur antara 20-30 tahun. Namun hiu paus, sebagai spesies hiu terbesar, dapat hidup hingga 150 tahun.

5. Hiu bukanlah pemangsa manusia


Foto: independent.co.uk

Publikasi yang salah kaprah dan hingga kini diyakini yaitu bahwa secara umum hiu dianggap sebagai pemangsa manusia yang kejam. Itu adalah kesalahpahaman, karena faktanya, hanya 10 dari semua spesies hiu yang dianggap berbahaya bagi manusia. Seperti yang kita lihat di film-film tentang serangan hiu.
Menurut fisheries.noaa.gov (12/07/2018), hiu akan menyerang manusia bila diganggu atau merasa terancam. Justru sebaliknya, manusia adalah ancaman yang terbesar bagi hiu. Banyak spesies hiu terancam oleh penangkapan ikan atau tangkapan sampingan, yang menyebabkan kematian jutaan hiu setiap tahun.
Dilansir dari conservation.org (2019), justru manusia membunuh hingga 100 juta hiu per tahun. Bandingkan, sementara kematian akibat serangan hiu hanya sekitar 10 peristiwa di seluruh dunia setiap tahun.
Hiu di seluruh dunia adalah target penangkapan ikan terbanyak untuk memenuhi permintaan besar akan sup ikan hiu, makanan lezat dan disukai kalangan atas. Bahkan hiu remaja pun banyak yang ditangkap secara tidak sengaja di perairan bebas yang menargetkan tuna dan billfish.
Selain itu, permintaan pasar akan sirip hiu dan daging untuk restoran juga berdampak pada beberapa spesies hiu. Salah satu ancaman adalah praktik kejam pemotongan sirip hiu. Di mana sirip hiu dipotong sementara sisa hiu dilemparkan kembali ke laut.
Dilansir dari thoughtco.com (03/07/2019), dikatakan International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menilai lebih dari 60 spesies hiu dan pari pelagis. Sekitar 24 persen digolongkan ‘hampir terancam’, 26 persen ‘rentan punah’, dan 6 persen ‘terancam punah’ secara global. Kemudian sekitar 10 digolongkan ‘sangat terancam punah’.
Itulah 5 fakta mengejutkan tentang hiu. Karnivora laut terbesar yang tersebar di seluruh lautan di dunia. (*)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar