Publikasi yang salah membuat spesies ikan
terbesar ini semakin terancam
Foto: inverse.com
Berdasarkan skala fosil yang ditemukan di
Australia dan Amerika Serikat, para ilmuwan berhipotesis hiu (Elasmobranchii)
pertama kali muncul di lautan sekitar 455 juta tahun yang lalu.
Ada beberapa ratus spesies hiu, mulai dari
yang berukuran kurang dari delapan inci hingga lebih dari 65 kaki.
Hiu ditemukan di lingkungan laut dangkal
hingga laut dalam, di lingkungan pesisir, laut, dan samudera di seluruh dunia.
Beberapa spesies mendiami daerah pantai yang dangkal, sementara yang lain hidup
di perairan dalam, di dasar samudera dan di samudera terbuka. Beberapa spesies,
seperti hiu banteng, berkeliaran dengan mudah di air asin, di air tawar dan di
air payau.
Hewan yang luar biasa ini memiliki
reputasi yang hebat dan biologi yang menakjubkan. Coba simak 5 fakta
menakjubkan tentang hiu berikut ini.
1. Hiu tidak memiliki tulang
Foto: nj.com
Hiu menggunakan insangnya untuk menyaring
oksigen dari air. Dilansir dari fisheries.noaa.gov (12/07/2018),
dijelaskan hiu adalah jenis ikan khusus yang dikenal sebagai "elasmobranch",
yang diterjemahkan menjadi ikan yang terbuat dari jaringan cartilaginous, yaitu
jaringan tulang rawan seperti pembentuk telinga dan ujung hidung kita.
Meskipun hiu tidak memiliki tulang, mereka
masih bisa memfosil. Seiring bertambahnya usia hiu, mereka menyimpan garam
kalsium di tulang rawan kerangka mereka untuk memperkuatnya.
Rahang hiu yang kering muncul, tampak
berat dan padat seperti tulang. Mineral yang sama tersebut memungkinkan
sebagian besar sistem kerangka hiu bisa menjadi fosil. Gigi-giginya pun
memiliki enamel, sehingga tampak ketika memfosil.
Meskipun hiu tidak memiliki kerangka
bertulang seperti banyak ikan lainnya. Hiu masih dikategorikan dengan
vertebrata lain di Filum Chordata, Subphylum Vertebrata, dan Kelas
Elasmobranchii. Kelas ini terdiri dari sekitar 1.000 spesies hiu, skate,
dan pari.
2. Spesies hiu beragam ukuran
Foto: conservation.org
Hiu memiliki beragam bentuk, ukuran, dan
bahkan warna. Dilansir dari fisheries.noaa.gov (12/07/2018), dikatakan
hiu adalah ikan terbesar dan ikan terbesar di dunia adalah hiu paus (Rhincodon
typus), yang diyakini mencapai panjang maksimal 19,812 m dengan berat bisa
mencapai 40 ton. Hiu terkecil dianggap hiu lentera kerdil (Etmopterus
perryi), spesies laut dalam langka yang panjangnya sekitar 15 sampai 20 cm.
bahkan ditemukan hiu saku (Mollisquama mississippiensis), dengan panjang
14 cm.
Gigi hiu tidak memiliki akar, sehingga
biasanya rontok setelah sekitar satu minggu. Namun, hiu memiliki pengganti yang
disusun dalam baris dan yang baru dapat bergerak dalam satu hari untuk
menggantikan yang lama. Hiu memiliki antara 5 dan 15 baris gigi di setiap
rahang, namun kebanyakan memiliki 5 baris.
3. Hiu adalah karnivora yang tak pernah tidur
Foto: telegraph.co.uk
Hiu termasuk karnivora, yang suka berburu
dan makan ikan, mamalia laut seperti lumba-lumba dan anjing laut, bahkan hiu
lainnya. Beberapa spesies memangsa kura-kura, burung camar, krustasea, moluska,
plankton dan udang.
Hiu memiliki sistem garis lateral di
sepanjang sisinya yang mendeteksi pergerakan air. Ini membantu hiu menemukan
mangsa dan menavigasi benda-benda lain di malam hari atau ketika visibilitas
air buruk.
Dijelaskan
oleh thoughtco.com (03/07/2019), sistem garis lateral terdiri dari
jaringan kanal berisi cairan di bawah kulit hiu. Gelombang tekanan di air laut
di sekitar hiu menggetarkan cairan ini. Getaran itu selaanjutnya ditransmisikan
ke serat dalam sistem, yang mentransmisikan ke ujung saraf hiu dan pesan
tersebut disampaikan ke otak.
Hiu perlu menjaga air bergerak di atas
insang mereka untuk menerima oksigen yang diperlukan. Tidak semua hiu perlu
bergerak terus-menerus. Beberapa hiu memiliki spiral, lubang kecil di belakang
mata mereka, yang memaksa air melintasi insang hiu sehingga hiu bisa diam
ketika beristirahat.
Hiu perlu berenang terus-menerus, tetap
aktif dan tenang daripada tidur nyenyak. Nampaknya hiu melakukan “berenang
tidur”. Namun dengan otak yang kurang aktif, meski mereka terus berenang.
4. Perkembangbiakan
Foto: thoughtco.com
Beberapa
spesies hiu bersifat ovipar, artinya mereka bertelur. Spesies yang lain tergolong
vivipar dan melahirkan anak muda. Menurut thoughtco.com (03/07/2019), spesies
hiu vivipar ini memiliki plasenta seperti bayi manusia. Dalam kasus tersebut,
embrio hiu mendapatkan nutrisi dari kantong kuning telur atau kapsul telur yang
tidak dibuahi, yang diisi dengan kuning telur.
Namun kadang ada embrio hiu yang
kompetitif. Seperti embrio Hiu Macan Pasir, di mana dua embrio terbesar,
mengkonsumsi embrio lain dari serasah.
Hiu berumur panjang, rata-rata beruur
antara 20-30 tahun. Namun hiu paus, sebagai spesies hiu terbesar, dapat hidup
hingga 150 tahun.
5. Hiu bukanlah pemangsa manusia
Foto: independent.co.uk
Publikasi yang salah kaprah dan hingga
kini diyakini yaitu bahwa secara umum hiu dianggap sebagai pemangsa manusia
yang kejam. Itu adalah kesalahpahaman, karena faktanya, hanya 10 dari semua
spesies hiu yang dianggap berbahaya bagi manusia. Seperti yang kita lihat di
film-film tentang serangan hiu.
Menurut fisheries.noaa.gov (12/07/2018),
hiu akan menyerang manusia bila diganggu atau merasa terancam. Justru
sebaliknya, manusia adalah ancaman yang terbesar bagi hiu. Banyak spesies hiu
terancam oleh penangkapan ikan atau tangkapan sampingan, yang menyebabkan
kematian jutaan hiu setiap tahun.
Dilansir dari conservation.org (2019),
justru manusia membunuh hingga 100 juta hiu per tahun. Bandingkan, sementara kematian
akibat serangan hiu hanya sekitar 10 peristiwa di seluruh dunia setiap tahun.
Hiu di seluruh dunia adalah target
penangkapan ikan terbanyak untuk memenuhi permintaan besar akan sup ikan hiu,
makanan lezat dan disukai kalangan atas. Bahkan hiu remaja pun banyak yang ditangkap
secara tidak sengaja di perairan bebas yang menargetkan tuna dan billfish.
Selain itu, permintaan pasar akan sirip
hiu dan daging untuk restoran juga berdampak pada beberapa spesies hiu. Salah
satu ancaman adalah praktik kejam pemotongan sirip hiu. Di mana sirip hiu
dipotong sementara sisa hiu dilemparkan kembali ke laut.
Dilansir dari thoughtco.com
(03/07/2019), dikatakan International Union for Conservation of Nature
(IUCN) telah menilai lebih dari 60 spesies hiu dan pari pelagis.
Sekitar 24 persen digolongkan ‘hampir terancam’, 26 persen ‘rentan punah’, dan
6 persen ‘terancam punah’ secara global. Kemudian sekitar 10 digolongkan ‘sangat
terancam punah’.
Itulah 5 fakta mengejutkan tentang hiu.
Karnivora laut terbesar yang tersebar di seluruh lautan di dunia. (*)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar